Tempat Musibah Kurang Tepat Jika Untuk Berselfi

Tempat Musibah Kurang Tepat Jika Untuk Berselfi – Baru saja ini, jurnalis asing dari The Guardian menceritakan mengenai masyarakat yang berfoto atau selfie di lokasi tsunami Selat Sunda, terutamanya di pesisir pantai Anyer yang terdampak.

Sebagian dari beberapa ‘wisatawan’ itu mempunyai pendapat seperti berselfie menjadi bukti jika sudah berkunjung ke tempat musibah untuk mengalirkan pertolongan. Lantas, bagaimana respon psikolog tentang perihal ini?

“Jika memang tujuannya menjadi bukti telah mengalirkan pertolongan, apakah memang seharusnya selfie? Terdapat beberapa langkah lainnya, seperti difoto saja barang2 sumbangan di tempat. Apakah memang memerlukan orangnya? Jika perlu, dapat meminta pertolongan orang yang lain untuk difotokan, tak perlu selfie,” kata Bona Sardo, psikolog dari Kampus Indonesia, waktu dihubungi oleh team detikHealth lewat pesan

Menurut Bona, selfie dalam tempat musibah kesannya memang tidak empatik, walaupun bukan bermakna mereka tidak mempunyai empati. Tempat musibah yang betul-betul baru berlangsung sekarang ini tengah memerlukan pertolongan serta harusnya mendapatkan pertolongan, bukan selfie.

“Kita masih tetap dapat foto-foto kok dalam tempat musibah sesudah daerah itu sembuh, seperti Aceh saat ini, kita dapat photo di monumen tsunami,” ujarnya.