PDIP Dirugikan

PDIP Dirugikan – Citra Presiden Joko Widodo yang sering dihubungkan dengan PKI, Cina, serta Kristen, sampai sekarang ini belum juga amblas. Mendekati penentuan capres serta wapres (Pemilihan presiden) 2019, rumor itu masih tetap seringkali berembus, diantaranya dengan beredarnya banner bertuliskan #JKWBersamaPKI.

Langkah Jokowi menggandeng Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma’ruf Amin menjadi cawapresnya untuk Pemilihan presiden 2019, ikut tidak lalu membuat rumor itu terlepas darinya. Begitupun sesudah dia mendapatkan suport dari La Nyalla Mattalitti, yang mengaku dahulu jadi aktor awal yang hembuskan rumor itu.

Pengajar pengetahuan politik serta pemerintah dari Kampus Gadjah Mada (UGM) Arya Budi memandang, rumor PKI yang menempel ke Jokowi sebenarnya tidak mempunyai hubungan dengan PDIP menjadi partai pengusung. Karena, dengan historis, tidak ada jalinan pada PDIP dengan PKI.

Menurut Arya, rumor PKI dilemparkan cuma hanya menjadi bahan kampanye.

“Itu cuma bahan kampanye saja. PDIP dipandang musuh bersama dengan yang bukan partai religius serta Islami. Oleh karenanya yang gampang dimainkan, ya, rumor PKI,” tutur Arya waktu dihubungi wartawan Tirto, Kamis petang (13/12/2018).

Arya menyampaikan, tidak tertutup peluang partai lainnya ikut terimbas rumor PKI bila tidak tunjukkan citra partai Islami.

“Ini begitu sangat mungkin dibuang serta dilekatkan ikut ke partai lainnya. Nasdem atau PSI, mungkin. Saat ini PDIP sebab mereka jadi lawan paling besar saja. Wong orang rajin beribadah saja dapat di-PKI-kan. Sebab dengan mem-PKI-an pihak spesifik, itu akan dilawan oleh semua orang,” jelas Arya.

Dengan historis, lanjut Arya, rumor PKI telah ada semenjak jaman Orde Baru serta selalu direproduksi. Itu kenapa rumor PKI jadi lekat ke ingatan kolektif penduduk.

“Pengaruhnya bahkan juga melebihi janji-janji politik seperti infrastruktur, ekonomi, HAM, serta yang lain,” kata Arya.

Arya menjelaskan, bergabungnya La Nyalla ke tim Jokowi-Ma’ruf tidak langsung membuat rumor PKI hilang. Karena, rumor itu dapat dimainkan di tempat lain, di lain kali, serta di lainnya kerangka.

“Ada aspek lainnya juga. Bisa saja penduduk telah dinetralisir jika Jokowi bukan PKI, tetapi itu belumlah pasti mengkonversi nada mereka ke Jokowi. Tetap ada kejadian memprotes voting yang tampil di Indonesia. Orang pilih Prabowo bukan sebab senang Prabowo, tetapi sebab tidak senang Jokowi. Begitupun demikian sebaliknya,” jelas Arya.

Satu kembali aspek yang menurut Arya bisa menimbulkan rumor PKI ialah terdapatnya reinforcement effect dalam kampanye. Dalam perihal ini, tujuan Arya ialah rumor PKI dipakai untuk menebalkan jati diri serta ideologi penduduk spesifik.

“Rumor itu akan tidak merubah langkah pandang seorang, tetapi malah memperjelas jati diri serta ideologi yang dia punya. Kampanye itu dapat mempertebal preferensi politik seorang, bukan merubah,” kata Arya.

PDIP Dirugikan

Tidak hanya Jokowi seseorang, beberapa kader PDIP ikut sering terserang imbas rumor PKI. Orang politik senior PDIP Eva Sundari mengaku jika rumor PKI yang dihembuskan selama saat kampanye, seringkali merugikan kader partai banteng dalam banyak penentuan umum.

Eva memberikan contoh Djarot Saiful Hidayat, yang kalah dalam Pilgub DKI 2017 serta Pilgub Sumut 2018, sebab imbas jejaknya yang sempat bergandengan dengan Ahok. Tidak hanya Djarot, Rano Karno ikut kalah di Pilgub Banten sebab ditunjuk kader PKI.

“Kami terasa begitu dirugikan sekali. Ada pertempuran yang tidak sehat dalam demokrasi kita. Serta memang, Indonesia dalam indeks demokrasi global alami penurunan jadi 20 persenan sebab politisasi agama serta hate speech,” kata Eva waktu didapati di kompleks DPR RI, Kamis pagi.