Getaran Roda Serta Getaran Bak Kayu Membuat Bising Masyarakat Yang Tinggal Di Kampung Pamuruyan RT 03 RW 01 Desa Pamuruyan

Getaran Roda Serta Getaran Bak Kayu Membuat Bising Masyarakat Yang Tinggal Di Kampung Pamuruyan RT 03 RW 01 Desa Pamuruyan – Matahari belumlah demikian tinggi, Dedih Suhendar (55), telah mulai melakukan aktivitas dengan gerobak sampah kayu kepunyaannya. Dia mengangkat sampah di selama gang.

Getaran roda serta getaran bak kayu membuat bising masyarakat yang tinggal di selama gang di Kampung Pamuruyan RT 03 RW 01 Desa Pamuruyan, Kecamatan Cibadak, Sukabumi.

Walau bising, masyarakat merindukan kedatangan Dedih. Tanpa dia, sampah serta berbau tidak enak tentu lah mengganggu siapa saja yang melintas di Kampung Pamuruyan.

“Saya telah berkeliling-keliling mengangkat sampah dengan gerobak kayu ini saat 3 tahun paling akhir, pergi dari kesadaran jumlahnya masyarakat yang tidak disiplin lewat cara buang sampah rumah tangga mereka,” kata Dedih pada detikcom di dalam kesibukannya mengangkat sampah masyarakat, Senin (11/2/2019).

Dedih menceritakan, dahulu sebelum ia ‘bersahabat’ dengan gerobak kayu kepunyaannya itu masyarakat seenaknya menumpuk sampah di bantaran-bantaran sungai. Sampah-sampah itu dilewatkan mengalir sampai ke hulu, jika kemarau tumpukan sampah menggunung membuat berbau serta panorama tidak enak.

Semenjak berjalannya kegiatan yang dikerjakan Dedih panorama tidak enak itu telah jarang tampak kembali. Waktu itu Dedi dinobatkan otomatis menjadi petugas kebersihan lingkungan oleh masyarakat ditempat.

Akan tetapi, belakangan ini kegiatan Dedi dikit terganggu. Gerobak kayu kepunyaannya tidak mampu kembali membawa banyak sampah sebab seringkali alami rusaknya. Dedih punya mimpi, ia ingin miliki gerobak baru untuk mendukung aktivitasnya.

“Telah mulai banyak ngadat, aslinya satu minggu saya dapat ngangkut sekitar empat sampai lima kali. Akan tetapi saat ini sangat kuat 3x satu minggu, sebentar-sebentar roda penopang ngadat atau bak kayu pada copot. Keinginan saya ada gerobak baru yang lebih kuat serta singkat,” berharap ia.

Dedi serta masyarakat sempat membawa harapannya itu ke pihak desa serta dinas kebersihan, akan tetapi harapannya itu tidak kunjung terealisasi. “Seringkali saya ngeluh, akan tetapi belumlah ada jawaban. Jadi ya sangat terpaksa saya paksain masih melakukan aktivitas dengan gerobak ini,” imbuhnya.

Dedih mempunyai tiga orang anak yang semua bersekolah. Pendapatan satu bulan dari iuran masyarakat Dedih kantongi pada Rp 500 ribu sampai Rp 700 ribu. Pendapatan itu belumlah dipotong untuk pihak dinas yang mengangkat sampah dari tempat pembuangan sesaat.

“Jika satu bulan bisa Rp 700 ribu, Rp 200 ribunya buat PU yang ngangkut sampah dari tempat pembuangan sesaat. Jadi boro-boro buat melakukan perbaikan, buat keseharian saja tidak cukuplah,” keluhnya.